July 31, 2018

Pesawat Terbang Tanpa Awak MALE Nasional yang Ditunggu, Ini Penampakannya

(MDN), Banyak penggemar alutsista tentunya penasaran dengan progres pengembangan drone nasional jenis MALE (Medium Altitude Long Endurance) yang proyeknya telah disiarkan sejak tahun 2016 silam.

Rasa penasaran itu juga dirasakan awak Redaksi Angkasa Review yang akhirnya terjawab sudah saat kami mengunjungi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pada 10 Juli lalu. Informasi resmi disampaikan langsung oleh Nainar, Project Engineer PTTA (Pesawat Terbang Tanpa Awak) PTDI yang menjadi nara sumber wawancara kami.  

Pengembangan PTTA MALE ini mulai di canangkan pada 2015 silam yang merupakan tindak lanjut dari kesuksesan proyek PUNA/PTTA Wulung untuk TNI AU.  Proyek drone MALE ini juga dijalankan oleh tim yang sama seperti proyek Wulung. Yaitu kolaborasi antara Kementerian Pertahanan, TNI AU, PTDI, BPPT, PT LEN Industri, dan ITB (Institut Teknologi Bandung).  

Kali ini kinerjanya dan perannya akan jauh lebih ampuh dibanding Wulung yang durasinya hanya maksimal empat jam dan berperan sebagai drone pengawasan (surveillance) saja. Sedangkan PTTA MALE dapat beroperasi enam kali lipatnya dan menjalankan misi ISR penuh (intelligence, surveillance, reconnaisance).  Seperti diutarakan Nainar, MALE Nasional ini dirancang untuk dapat beroperasi selama 24 jam dengan ketinggian maksimum hingga 7.000 m dan jangkauan jelajah operasi sejauh 5.000 km.  

Nainar juga mengungkapkan, drone MALE ini akan dibangun dalam empat fase atau yang disebut sebagai ‘Block’. “Pertama adalah Block O, lalu Block L, selanjutnya Block D, dan terakhir Block C,” ujarnya.  Pada fase awal atau Block O (O=kosong) sang MALE belum dilengkapi sistem misi. 

Fase ini adalah pembuktiaan konsep (proof of concept) apakah MALE bisa terbang sesuai dengan target atau kinerja yang ditentukan sebelumnya. Lalu fase kedua atau Block L (L=LEN) mulai menerapkan sistem misi yang dikembangkan oleh PT LEN Industri.  Selanjutnya dalam Block D (D= Data link-BLOS), MALE akan dilengkapi sistem terkait dengan perannya sebagai pesawat ISR penuh. Untuk mendapatkan sistem yang telah proven, PTDI dan Tim akan mencari mitra dari negara lain.  

Baik dalam Block O dan Block L, MALE yang akan dibangun oleh PTDI ini sistem roda pendaratnya masih belum dimasukkan ke dalam badan pesawat (fixed landing gear). Baru pada tahap ketiga dan keempat sistem roda sudah dirancang bisa masuk ke dalam yang juga akan meningkatkan aerodinamis pesawat.  

Seperti yang diungkap Nainar, setidaknya telah ditetapkan tiga mitra sebagai pemasok sistem misi ISR tersebut, yaitu dari perusahaan asal Cina, Turki dan Perancis.  Meski tidak mengungkapkan secara detail, dari banyak berita yang beredar di dunia maya, sistem ini akan serupa dengan milik drone CH-4 dari Cina, Anka dari Turki, dan drone Patroller buatan Safran-Perancis. 

Namun dipastikan oleh Nainar, MALE tetap murni rancangan Indonesia, hanya sistemnya saja yang akan diambil dari luar.  Sampai saat ini progres PTTA MALE yang belum mendapatkan nama ini telah masuk detail desain untuk pembuatan purwarupa. Diharapkan tahun 2019-2020 telah menjalani penerbangan perdananya. Dua tahun selanjutnya proses untuk mendapatkan sertifikasi sehingga tahun 2022 sudah bisa masuk jalur produksi.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...