March 26, 2012

Sukhoi Batch I Ternyata Bekas, dan Kontrak US$470 Juta Selain untuk Membeli 6 Su-30 MK2 juga Dibelikan Mesin Pesawat Sukhoi

Su-27 SK TNI AU (Foto: Indoflayer.net)
(MDN), JAKARTA--Anggota Komisi I DPR Salim Mengga mengkritisi pemerintah yang suka membeli alat utama sistem persenjataan (alusista) bekas. "Pembelian alusista tidak lengkap. Beli sukhoi tidak lengkap. Heli tidak lengkap. Akibatnya nongkrong di garasi, masa pakai sudah habis. Padahal tidak pernah di pakai," kata Salim saat rapat kerja Komisi I dengan Kemenhan, Senin (26/3), di Jakarta.
 
Karenanya, purnawirawan TNI itu meminta pemerintah berhitung dengan cermat sebelum membeli. "Beli tidak perlu banyak, tapi lengkap," katanya.

Dia menyesalkan pembelian Sukhoi seperti yang sudah-sudah, bahwa belum  dipakai saja harus overhaul. Hal itu karena membeli barang bekas yang membutuhkan perawatan besar dan membebani keuangan negara. Dia juga mengkritisi sistem pembelian dan pemeliharaan tidak bagus.


Salim menyarankan pemerintah lebih baik membeli barang baru ketimbang barang bekas. Dicontohkan, saat membeli Scorpio, lima tahun tidak ada pemeliharaan. Sehingga dana APBN bisa dianggarkan untuk membeli alusista yang lain, tidak hanya digunakan untuk perawatan. "Kalau bekas awalnya murah, tapi nanti biaya pemeliharaan tinggi," katanya.


Sedangkan barang baru dijelaskan dia, memang awalnya mahal. Tapi, tegasnya, nantinya tidak akan mengeluarkan biaya pemeliharaan.

Sumber: JPPN

Pembelian Sukhoi di Kawasan Asteng

(MDN), Jakarta - Kehadiran varian jet tempur Sukhoi di kawasan Asia Tenggara diawali pembelian lima unit Su-27S dan satu unit Su-27UBK oleh Vietnam. Kontrak pembelian bernilai 200 juta dolar pada 1994, pesawat tiba di Vietnam 1995. Pembelian dilanjutkan 6 unit tambahan terdiri dari dua Su-27S dan empat Su-27UBK pada 1996 dan pesawat tiba pada 1997-1998.

Vietnam kembali membeli empat Su-30MK2V senilai 100-120 juta dolar pada 2003 dan pesawat tiba setahun kemudian. Vietnam memborong 100 rudal Kh-29/AS-14 Kedge, 20 rudal Kh-31A1/AS-17 dan 50 rudal R-73/AA-11 Archer untuk mempersenjatai skuadron Sukhoi pada 2004.

Vietnam menambah kekuatan Sukhoi dengan meneken kontrak pembelian delapan Su-30MK2V senilai 400-500 juta dolar pada 2009 serta 12 Su-30MK2V senilai 1 milyar dolar pada 2010. Arsenal Sukhoi ditambah 100 bom pandu KAB-500/1500, 80 rudal Kh-31P dan 250 rudal R-73/AA-11 Archer.

Indonesia melanjutkan kembali rencana pembelian jet tempur Sukhoi, setelah tertunda pada 1997. Pemerintahan Soeharto memesan 20 jet tempur Sukhoi untuk memodernisasi TNI AU setelah diembargo pihak Barat. Rencana pembelian dibatalkan karena Indonesia mengalami krisis moneter. Pemerintahan Megawati melanjutkan rencana pembelian Sukhoi pada 2003.

Indonesia memesan dua Su-27SMK, dua Su-30MK dan dua helikopter tempur Mi-24P senilai 197 juta dolar, 26 juta dolar dibayar tunai dan sisanya melalui mekanisme barter. Departemen Perindustrian dan Perdagangan menawarkan 31 komiditi pada Rusia, dan Rusia menyetujui membeli 11 komiditi, seperti karet, minyak sawit, teh, kopi, coklat, tekstil, serta bauksit (Gatra/23 April 2003).

Menurut SIPRI, helikopter Mi-24P dan Su-27SMK bukan produksi baru tetapi bekas pakai Angkatan Bersenjata Rusia dan modernisasi sebelum dikirim ke Indonesia.

Negara jiran tidak mau kalah, mereka meneken kontrak pembelian satu skuadron Su-30MKM terdiri 18 unit berikut persenjataan lengkap. Moskow dan Kuala Lumpur meneken kontrak senilai 900 juta dolar, berikut offset lebih dari 33%, 270 juta dibayar dengan barter, alih teknologi angkasa luar berikut pelatihan kosmonot Malaysia. Malaysia memborong juga 150 rudal Kh-31A dan Kh-31P, 150 rudal R-27RE/AA-10 Alamo, 250 rudal R-73/AA-11 Archer dan 150 rudal RVV-AE/AA-12 Adder.

Indonesia kembali membeli tiga Su-27SKM-2 dan tiga Su-30MK2 senilai 300-353 juta dolar pada 2008. Jakarta membeli 10 rudal Kh-31P/AS-17 pada 2009. Jakarta kembali memesan enam Su-30MK2 senilai 470 juta dolar tahun lalu, diperkirakan tiba pada 2012-2014.

@Berita HanKam 

Sumber: Hankam
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...