January 24, 2012

KSAD Soal Tank Leopard: Kami Tidak Mengemis


Leopard 2a6 Milik AD Belanda

"Andai Belanda tidak jual, kami tidak akan mengemis," kata Jenderal Pramono Edhie Wibowo

Jakarta- Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Pramono Edhie Wibowo, menyatakan saat ini pemerintah masih dalam tahap negosiasi dengan pemerintah Belanda untuk membeli 100 tank Leopard 2.

"Kami sedang nego harga. Jadi, kata putus dan harga pasti belum ada keputusan," kata Pramono Edhie di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa 24 Januari 2012.

Menurut Pramono, saat ini pemerintah dalam kondisi terjepit untuk membeli Tank Leopard tersebut. Karena mendapat tekanan dari parlemen dalam negeri dan parlemen Belanda. "Parlemen Belanda menolak. Parlemen Indonesia menanyakan. Sebetulnya kami ini posisinya sulit," ujarnya.
 
Meski demikian, Pramono menegaskan tidak akan mengemis kepada pemerintah Belanda jika pembelian tank itu mendapat penolakan. "Andai Belanda tidak menjual maka kami tidak akan mengemis," ujarnya.

Ditolak Parlemen

Diberitakan sebelumnya, Parlemen Tweede Kamer menolak permintaan Kementerian Pertahanan Belanda untuk menjual tank Leopard ke Indonesia. Dalam mosi penolakan parlemen, mereka mengatakan tidak ingin terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang kerap terjadi di Indonesia.

Seperti diberitakan Radio Nederland Siaran Indonesia, Rabu 14 Desember 2011, mosi penolakan awalnya diajukan oleh Partai Kiri Hijau (Groenlinks). Dari seluruh anggota parlemen, hanya dua partai yang menentang penolakan, yaitu partai CDA (Kristen Demokrat) dan VVD (Liberal Konservatif).

Pramono kembali menegaskan pentingnya Indonesia membeli Tank Leopard 2 ini. Menurutnya, Leopard 2 memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan tank yang dimiliki negara tetangga. "Kami pada dasarnya ingin membangun kekuatan. Malaysia sudah punya lama, tapi kita masih baru mau beli. Yang tidak punya Timor Leste, Papua Nugini," ujarnya. 

Sumber : VIVANEWS.COM


DPR Ramai-Ramai Tolak Pembelian Tank Leopard


Jakarta-Politisi di Senayan ramai-ramai mengecam rencana pembelian tank Leopard dari Belanda. Para politisi dari sejumlah fraksi termasuk Demokrat itu menilai pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) itu tidak tepat.

"Kami tidak ingin pembelian alutsista ini justru malah membebani negara," kata Enggartiasto Lukita, anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Golkar, Selasa 24 Januari 2012. "Kami tidak mau dikecam oleh ekonom atau masyarakat," kata Enggar dalam rapat kerja dengan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono itu.

Politikus Golkar itu menyatakan yang paling penting adalah kesejahteraan prajurit. Seberapa canggih pun peralatan, jika kesejahteraan belum terjamin, maka peralatan tidak efektif. Karena itu, Enggartiasto menyatakan, harus ada persentase yang adil antara keperluan peralatan dan kesejahteraan prajurit.

Anggota Komisi I dari Demokrat, Adjeng Ratna Suminar, menyatakan ketika ke daerah-daerah masih banyak melihat rumah-rumah prajurit yang hancur. Adjeng bahkan mempertanyakan apakah pembelian tank Leopard ini hanya sekadar "keren-kerenan", sementara banyak prajurit TNI hidup nelangsa.

Susaningtyas Nefo Handayani, politikus Hanura, mempertanyakan alasan pembelian Leopard. "Kita harus bisa cermati situasi geografis dan kondisi yang ada, dalam pembelian alutsista. Apakah leopard ini sudah sesuai dengan apa yang kita butuhkan? Apa sesuai dengan kondisi kita? Dengan berat 60 ton dan jalan serta jembatan tidak memadai," katanya. "Apakah tidak mungkin Pindad memproduksi main atau light battle tank yang bisa digunakan di perbatasan?"

Lagi pula, kata Nefo, 70 persen wilayah Indonesia berupa lautan. "Kenapa bukan bangun kapal patroli dari PAL?" ujarnya. "Itu cukup bagus untuk mempertahankan wilayah kita dengan banyaknya pulau. Soal dirgantara, jangan terulang heboh kasus PNG. Alangkah baiknya kalau peralatan kita bisa lebih maju," katanya.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Mayor Jenderal TNI purn. Tritamtomo menyatakan pengadaan barang dan jasa di lingkungan TNI/Polri seharusnya mengutamakan produk dalam negeri. Kemudian, pembangunan alutsista ini harus berbarengan dengan sistem pembekalan prajurit sehingga bisa membentuk TNI yang kuat dan profesional.

Teguh Juwarno, politikus Partai Amanat Nasional, menyatakan DPR meminta sesi khusus soal rencana pembelian Leopard ini. "Ini ada problem. Ini memang ada ancaman apa sehingga kita harus beli Leopard?" katanya. Selama ini, kata Teguh, pembelian alutsista selalu menurut apa kata pemerintah secara sepihak, bukan kesepakatan DPR bersama pemerintah.

sumber: vivanews
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...