January 14, 2012

Komisi I Ogah ke Belanda Cek Leopard Bareng Menhan

Leopard 2a6 di Pameran Pertahanan Turki (Foto: worldwide-defence.blogpot.com)

INILAH.COM, Jakarta - Rencana Kementerian Pertahanan (Kemenhan) membeli tank Leopard bekas tipe 2A6 dari Belanda sampai saat ini masih menjadi kontroversi.

"Sebagai klarifikasi ulang. Bahwa sampai hari ini pihak Kemenhan belum secara resmi memaparkan rencana pembelian tank Leopard bekas dari Belanda, kami Komisi I baru mendapat informasi tentang rencana itu dari media," ujar Wakil Ketua Komisi I dari Fraksi PDI Perjuangan TB Hasanuddin kepada INILAH.COM, Sabtu (14/1/2012).

Karena belum ada pembahasan tersebut, tambahnya sehingga Komisi I belum membuat kesepakatan apapun terkait rencana pembelian tank leopard tersebut.

"Memang benar bahwa seminggu yang lalu Kemenhan telah mengundang Komisi I bergabung meninjau ke Belanda , tapi kami sepakat tidak ikut bergabung dengan rombongan Kemenhan."

Andaikan harus meninjau lanjutnya, Komisi I sepakat akan meninjau dengan biaya sendiri dengan titik berat adalah mempelajari aspek-aspek politis. "Bukan aspek teknis karena bukan ranah kami," ungkapnya.

Sumber: Inilah


Tank Leopard Yes, Tank Pindad Yes!

INILAH.COM, Jakarta - Rencana Kementerian Pertahanan membeli tank Leopard bekas dari Belanda nampaknya tidak bisa dihentikan. Sebab rencana ini sudah melibatkan hubungan antara pemerintah dan pemerintah.

Pengamat militer Hermawan Sulistyo menilai, agak sulit jika untuk menghentikan rencana pembelian tank leopard tersebut sebab hal ini sudah menyangkut hubungan jual beli senjata antara negara.

"Sulit ini kan sudah ada mafia yang namanya military industrial complex semua negara harus pakai broker, Amerika juga pakai kok," ujar Hermawan saat ditemui usai acara diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (14/1/2012).

Meski begitu, Hermawan berharap pemerintah dan DPR tetap mendukung produksi dalam negeri sendiri seperti PT Pindad dinilai memiliki kualitas yang memadai dan internasional. "Wong Malaysia ngambilnya juga dari sini kok, dia pesen banyak. Panser Anoa, bagus murah, cuma yang dilawan industri militer dunia susah kita," jelasnya.

Jika Indonesia ingin memiliki Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) yang canggih dan bertaraf internasional, Indonesia hanya tinggal mengembangkan produksi dalam negeri yang sudah ada. "Kalau berani kembangin saja pindad kita mampu kok, dulu kita punya roket sura bagus kok dibeli dimana," jelasnya.

Menanggapi penolakan dari Komisi I DPR terkait pembelian tank ini, Hermawan menilai hal itu hanya sebuah sandiwara atau strategi para anggota dewan saja. "Namanya saja sudah komisi, kalau komisi kecil mana mau dia membangun industri dalam negeri," jelasnya.

Sumber: Inilah
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...